Home | Tasawuf | Suluk Kiai Cebolek

Suluk Kiai Cebolek

Oleh A Muchlishon Rochmat
Daerah pojok timur laut Kabupaten Pati adalah daerah yang kurang begitu dikenal baik di wilayah Jawa Tengah apalagi Indonesia. Tetapi siapa yang menyangka, di Pati, tepatnya desa Kajen di makamkan seorang salik yang begitu karismatik. Mbah Mutammakin atau Kiai Cebolek namanya. Seseorang yang begitu dihormati oleh masyarakat sekitar dan dipercaya sebagai seorang wali.

Ahmad Mutammakin, Sumahadiwijaya, dan Kiai Cebolek adalah nama yang disematkan pada sosok yang diyakini masyarakat sekitar ini sebagai wali Allah. Kiai Cebolek hidup pada tahun 1645-1740 (Milal, 2002) bersamaan dengan Amangkurat IV dan Pakubuwono II, raja Kartasura. Tidak banyak fakta sejarah yang menjelaskan kehidupan Kiai Cebolek secara menyeluruh. Tetapi kejadian heroik Kiai Cebolek adalah saat ia diadili oleh Ketib Anom di Keraton Kartasura karena dianggap menyebarkan ilmu hakikat (manunggaling kawula gusti) kepada masyarakat awam.

Serat Cebolek yang diyakini sebagai karya pujangga terbesar Keraton Kartasura, R Ng Yasadipura I, merekam perdebatan sengit yang melibatkan Kiai Cebolek dengan Ketib Anom dari Kudus. Selain Serat Cebolek, ada Teks Kajen dan Arsy Muwahhidun yang diyakini sebagai karangan asli Kiai Cebolek, namun tidak sedikit yang meragukannya. Dalam Serat Cebolek, Kiai Cebolek dilukiskan memiliki perangai yang lusuh, jelek, mirip pengemis dan sok pintar padahal bodoh. Hal tersebut sangat kontras dengan apa yang terdapat dalam Teks Kajen dan Arsy Muwahhidun yang mana melukiskan Kiai Cebolek sebagai sosok yang luas ilmunya, memiliki kedalaman sepiritual dan gagah perkasa.

Terlepas dari perbedaan ini, sosok Kiai Cebolek begitu mengisnpirasi dan melekat di sanubari masyarakat sekitarnya. Di Kajen, desa di mana Kiai Cebolek dimakamkan, menjadi a�?kota santria�� dengan lebih dari 30 pesantren. Sangat luar biasa mengingat Kajen yang notabenenya adalah desa kecil yang lahan untuk persawahan pun tak punya. Hampir semua pesantren besar yang tersebar di pesisir pantai Jawa diasuh oleh dzurriyah (anak turunnya) Mbah Mutammakin atau Kiai Cebolek.

Tafsir Suluk Kiai Cebolek
Dalam bukunya Ubaidillah Achmad dan Yuliyatun Tajuddin (Suluk Kiai Cebolek, 2014) disebutkan bahwa ada enam spirit atau suluk Kiai Cebolek sebelum menggapai martabat insan kamil. Keenam suluk ini disimpulkan dari keterangan-keterangan yang ada pada ornamen-ornamen masjid Kiai Cebolek, penuturan para dzurriyahnya dan masyarakat sekitar.

Pertama, suluk niat Kiai Cebolek. Suluk niat menjadi dasar dari segala perbuatan ibadah seorang hamba seperti yang telah disabdakan nabi. Kalau niatnya sudah tidak benar, maka amalnya juga tidak akan benar. Menurut cerita masyarakat sekitar Kajen, kesalahan niat pernah dialami oleh Ketib Anom saat ia berkunjung ke Kajen untuk menemui Kiai Cebolek dan berniat untuk menguji dan menjatuhkannya. Kiai Cebolek mampu menjawab apa yang ditanyakan oleh Ketib Anom. Kemudian Kiai Cebolek meminta Ketib Anom untuk menafsirkan ornamen-ornamen pada dinding masjid Kiai Cebolek, Ketib Anom tidak bisa dan malah kebingungan.

Kedua, suluk ketauhidan. Suluk ini merupakan cerminan kayakinan Kiai Cebolek kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW sebagai Rasulullah. Gelar a�?Al-Mutammakina�? (orang yang berpegang teguh dan berprinsip) yang disandangnya merupakan bukti bahwa Kiai Cebolek mengamalkan nilai-nilai ketauhidan secara total dan kuat. Ketauhidan yang diamalkan Kiai Cebolek bukan hanya di mulut, tapi juga pada tindakan-tindakannya.

Ketiga, suluk transformasi (perubahan diri). Suluk transformasi merupakan suluk yang mengupayakan perubahan diri dari hal yang tidak baik ke hal yang baik. Selain memperbaiki diri sendiri, Kiai Cebolek juga turut memperbaiki masyarakatnya. Kiai Cebolek berusaha sekuat tenaga untuk mendampingi rakyat dan melawan tirani dengan menggunakan ranah tasawuf sebagai media perjuangannya.

Keempat, suluk pembebasan. Setiap individu memiliki kewajiban untuk melepaskan setiap individu dan masyarakat dari penindasan. Suluk pembebasan mengharmonisasikan peran antarindividu, tidak ada yang menguasai dan tak ada yang dikuasai. Berbeda dengan Kiai Cebolek yang menggunakan tasawuf sebagai media untuk membebaskan rakyat dari ketiranian, Gus Dur, salah satu dzurriyahnya dan presiden keempat NKRI, menggunakan demokrasi untuk membebaskan dan melindungi rakyat lemah.

Kelima, suluk kearifan lokal. Kearifan lokal merupakan kekayaan dan identitas yang dimiliki oleh suatu masyarakat. Kiai Cebolek, sebagaimana yang dilakukan oleh para Wali Sanga, berusaha melindungi dan melestarikan kearifan-kearifan lokal masyarakat dengan cara menyisipkan nilai-nilai islami ke dalamnya.

Keenam, tazkiyatun nafsi (membersihkan diri) dari hal-hal yang syubhat, apalagi haram. Kisah yang melegenda masyarakat sekitar tentang tazkiyatun nafsi Kiai Cebolek adalah saat Kiai Cebolek melakukan riyadhah (olah jiwa) selama empat puluh hari. Pada saat akan berbuka puasa, Kiai Cebolek menyiapkan makanan-makanan yang lezat. Ia meminta istrinya untuk mengikatnya dan meletakkan makanan tersebut di hadapannya. Maka keluarlah nafsu Kiai Cebolek dalam bentuk dua ekor anjing, anjing ini menyantap habis makanan tersebut dan setelah selesai ke dua ekor anjing tersebut akan masuk lagi ke tubuh Kiai Cebolek tetapi Kiai Cebolek tidak memperkenankannya. Kedua anjing ini diberi nama Kamaruddin dan Abdul Kahar. Bisa saja cerita ini hanya kiasan semata, tetapi yang pasti Kiai Ceboleh melakukan tazkiyatun nafsi tingkat tinggi.

Enam suluk ini merupakan tangga untuk menggapai status insan kamil (manusia sempurna) sebagaimana yang Kiai Cebolek ajarkan. Yang perlu kita tahu bahwa Kiai Cebolek tidak melulu beribadah di masjid, tetapi ia juga berjuang bersama rakyat dari segala penindasan dan kesengsaraan yang ada.

Suluk, ajaran, atau semangat Kiai Cebolek tak pernah surut dan akan terus tumbuh subur di kalangan dzurriyah-dzurriyah (anak-cucunya), santri-santri dan masyarakat sekitarnya.

*) Penulis adalah Jurnalis NU Online, Wasekjen PMII Pusat.

Sumber : NU Online