Home | Pesantren | Babakan Ciwaringin, Desa dengan Puluhan Pesantren

Babakan Ciwaringin, Desa dengan Puluhan Pesantren

Oleh : Mahmudah, Lc
Penulis adalah alumnus International University of Africa, Khourtum Sudan.

Bumi pesantren Babakan adalah sebuah hamparan perkampungan pondok pesantren yang terbentang luas di sebuah desa bernama Babakan. Tak kurang dari 30 pondok pesantren putra dan putri berada di desa ini. Secara administratif, desa ini berada di wilayah kecamatan Ciwaringin kabupaten Cirebon propinsi Jawa Barat. Sejak berdirinya pada tahun 1715 Masehi, pondok pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon menunjukkan perkembangan yang pesat. Ini diperlihatkan pada munculnya lembaga-lembaga pendidikan di desa ini dari MI/SD, hingga perguruan tinggi. Bumi pesantren Babakan yang letaknya sekitar 25 km dari kota Cirebon dan dengan tempuh sekitar 30 menit ini, memiliki kontribusi riil terhadap perkembangan pendidikan Islam di wilayah Cirebon, selain bumi pesantren lainnya yang sering disebut oleh media, yaitu; bumi pesantren Kempek, Arjawinangun, Buntet dan Jagasatru.

Pondok pesantren tradisional di daerah Babakan tergolong bertipologi Salaf dan hanya sebagian kecil yang bertipe khalaf. Bumi pesantren yan terletak berbatasan dengan sebelah barat desa Budur, sebelah selatan desa Ciwaringin, sebelah timur desa Ciwaringin, dan sebelah utara desa Gintung. Untuk menuju pondok pesantren ini dari berbagai arah mata angin sangatlah mudah, karena letaknya yang strategis dan berdekatan dengan jalan utama Cirebon-Bandung dari arah selatan. Di samping itu, popularitas Babakan Ciwaringin sebagai pusat pendidikan dan pondok pesantren ini juga telah memudahkan orang untuk berkunjung ke daerah ini.

Sejarah Pesantren Babakan

Konon, dalam sebuah sejarahnya, nama Babakan diambil untuk mengenang kepeloporan seorang Wali yang kerap diberi julukan Kiai Jatirah. Ia berjasa memulai dan membuka daerah yang dikenal kering dan gersang sehingga menjadi sebuah tempat pemondokan. Tidak heran, sebutan Babakan, merupakan kata yang memiliki makna kesejarahan pembentukan awal daerah ini, yang berarti juga mbabak-babak (red. memulai atau membuka lahan).

Menurut sebuah literatur, kehadiran Kiai Jatirah yang juga memiliki nama KH. Hasanuddin tersebut terjadi sekitar tahun 1127 H/ 1715 M. Bersama masyarakat di daerah itu, beliau merintis sebuah pondok pesantren yang amat sederhana, di bangun dengan infrastruktur seadanya, atapnya terdiri dari ilalang dan daun-daun kelapa, dindingnya dari kayu dan bambu, di sebelahnya dibangun pula surau kecil untuk shalat berjamaah, tempat mengaji dan tempat bermusyawarah.

Pendirian awal pondok pesantren ini diwarnai dengan nuansa sosial-politik nasional abad 18, di mana tengah berkecamuk era kolonial Belanda. Berbagai bentuk perlawanan dari masyarakat pribumi melakukan pembelaan terhadap kaum penjajah. Tak terkecuali Kiai Jatirah, sepak terjang dan perannya dalam memobilisasi dan mengkonsolidasikan umat muslim di daerah itu membuat namanya semakin harum, tidak saja sebagai seorang ulama yang kharismatik, tetapi juga pejuang yang gigih membela tanah air tumpah darahnya.

Peristiwa yang dianggap monumental dari kepeloporan Kiai Jatira ini salah satunya adalah kisah tentang regulasi Belanda mengenai pembuatan jalan raya menghubungkan Bandung-Cirebon yang menjadi resisten bagi penduduk Babakan. Dalam planningnya, semula Belanda memasukkan wilayah Babakan (yang sekarang menjadi PP. Raudlatu Thalibin) menjadi wilayah lintasan jalan raya dan bahkan Belanda telah menanam dua patok besar, pertanda daerah tersebut kelak menjadi jalan. Namun berkat perjuangan KH. Hasanuddin, dua patok jati besar yang melintasi pesantren berhasil dibelokannya ke arah yang menjauhi lokasi pesantren. Karena perjuangan inilah KH. Hasanuddin mendapat julukan a�?jatiraa�? artinya jati dua.

Sepeninggal KH. Hasanuddin, tampuk pimpinan pesantren dipegang oleh menantunya yang bernama KH. Nawawi dan puteranya bernama KH. Adzraa��i. Pada tahun 1225 H/1810, kepemimpinan pesantren Babakan kemudian dipegang menantu KH. Adzraa��i yang bernama KH. Syarqawi.

Selepas KH. Syarqawi, pesantren dipimpin oleh KH. Ismail (putera KH. Adzraa��i) dan selanjutnya beralih ke tangan KH. Muhammad Glembo bin KH. M Irsyad bin KH. Adzraa��i. Awal abad XX, tepatnya pada tahun 1335 H/1916 M, pesantren Babakan dikendalikan oleh KH. Amin Sepuh bin KH. M. Irsyad, cicit KH. Adzraa��i. Dalam menjalankan tugas kepesantrenannya, KH. Amin Sepuh dibantu saudara Iparnya, yaitu KH. M. Sanusi sejak tahun 1341 H/1922 M.

Pada penggal sejarah tahun 1940-an, pondok pesantren Babakan telah melahirkan banyak pondok pesantren. Ini diperlihatkan pada kemunculan tokoh KH. Muhammad Amin bin Kyai Romli, yang kerap disebut Kiai Madamin, mengembangkan pendidikan kepesantrenan di Babakan bagian selatan. Selepas Kyai Madamin wafat, pesantren selatan selanjutnya diasuh oleh para menantu beliau, di antaranya; KH. Abdul-Hanan, KH. Masduqi Ali, KH. Muhammad dan Kyai Sholihin bin Kiai Madamin.

Pada era perjuangan nasional menjelang kemderdekaan, yaitu tahun 1940-an, situasi pesantren Babakan Ciwaringin mengalami goncangan kembali. Bahkan menurut sebuah informasi, demi kemaslahatan dan keamanan, pesantren Babakan sempat tidak melangsungkan kegiatan kepesantrenan selama setahun. Meskipun demikian, psikologi para ulama yang beristiqomah menyebarkan ajaran Islam, tidak menyurut ia��tikad baiknya mengasuh para santri. Ini diperlihatkan dengan kegigihan KH. Abdul Ghani, KH. Athoillah, KH. Mahsuni yang berhasil mendirikan sebuah madrasah pada tahun 1362 H/1943 M yang diberi nama Madrasah Salafiyah Syafia��iyah (MSS) tingkat Ibtidaa�� dan enam tahun kemudian, 1368 H/1949 M, MSS meningkatkan pengembangannya dengan mendirikan tingkat Tsanawiyah.

Pola pendidikan pesantren yang dikenal tradisional, dalam pengertian metode dan sistem pengajarannya yang kerap menggunakan dua metode, bandongan dan sorogan, pada tahun 1959, sistem pendidikan pesantrenan mengakomodasi metode madrasah atau dikenal pula dengan sebutan klasikal. Tidak lama dari awal pengembangan pesantren dari segi metode belajar ini, keluarga besar pesantren Babakan mendirikan gedung Madrasah al-Hikamus as-Salafiyah yang juga dikenal banyak kalangan dengan sebutan MHS di mana peletakan batu pertamanya dilakukan pada 1967 M di blok Gondang Manis. Dua tahun berikutnya, dengan kondisi bangunan yang sederhana, MHS, telah menyelenggarakan pendidikan kepesantrenan dengan sistem klasikal, tingkat Ibtida, Tsanawiyah dan Aliyah.

Meski pada saat itu, situasi politik bangsa dan negara tidak stabil, para ulama Babakan tetap memperjuangkan pengembangan pendidikan di Babakan. Tepatnya pada tahun 1968 M, Departemen Agama RI mengubah MSS tingkat Tsanawiyah menjadi Madrasah Tsanawiyah Agama Islam Negeri (MTs AIN), saat ini MTsN dan pada tahun 1972, para ulama Babakan mengutus KH. Ali, KH. Masduqi Ali, KH. Syaerozi dan KH. Hariri, menemui Mentri Agama yang saat itu dijabat KH. M. Dahlan dan berhasil membawa Surat Keputusan (SK) untuk pengaturan pendidikan di MHS. Kedua SK itu adalah SK Madrarasah Aliyah Agama Islam Negeri dan SK Institut Agama Islam Negeri Fakultas Tarbiyah.

Pada era pertengahan tahun 1960-an inilah, bumi pesantren Babakan terjadi pengembangan paradigma pendidikan kepesantrenan. Sisi akomodasi ulama Babakan inilah yang menggambarkan bahwa secara kelembagaan, pendidikan pesantren mengalami perkembangan pesat. Terlihat bahwa integrasi ilmu (ilmu keagamaan dan ilmu pengetahuan umum), diwujudkan di bumi pesantren Babakan Ciwaringin. Tentu saja ini menjadi sebuah pertanda bahwa para ulama yang berpegang teguh pada kaidah tasyaruf al-imam ala ar-raiyah manut bi al-maslahah (kebijakan para pemimpin senantiasa berbasis pada kemaslahatan universal), melakukan perencanaan jangka panjang, agar bumi pesantren Babakan menjadi referensi bagi santri, pelajar dan masyarakat umum dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.

Begitu juga pada tahun 1960-an inilah, dunia pendidikan kepesantrenan di Babakan menunjukkan perkembangannya. Ini diperlihatkan pada banyaknya pondok pesantren yang didirikan. Bahkan karena banyaknya pondok pesantren yang berdiri, masyarakat setempat menjadi latah menyebut pesantren Babakan secara geografis menjadi dua sebutan, yaitu Babakan utara dan Babakan selatan. Pertumbuhan pondok pesantren Babakan inilah semakin hari semakin bersinar dan tidak jarang banyak kalangan menaroh perhatian terhadap pengembangan pendidikan Islam di bumi pesantren Babakan ini.

KUPI, Kebon Jambu, Babakan, Ciwaringin, Cirebon, PWNU Jabar, Jawa Barat
Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) pertama dilaksanakan di Pesantren Kebon Jambu, 25-27 April 2017. Foto: VoA Indonesia.

Metamorfosis Pesantren Babakan

Sifat ketradisionalan pondok pesantren Babakan Ciwaringin tampaknya tidak menggeser inovasi-inovasi baru menuju pengembangan dan perubahan. Tercatat bahwa tahun 1960-an inilaha yang merupakan tonggak awal dimulainya sistem madrasah sebagai metode belajar para santri, mengembangkan dua metode sebelumnya, bandongan dan sorogan. Tidak lain, ketiga metode tersebut diselenggarakan oleh para sesepuh pesantren Babakan, hanyalah untuk membekali santri menjadi orang alim yang memiliki ilmu pengetahuan agama Islam.

Dari segi infrastruktur kelembagaan, pasca tahun 1960-an, bumi pesantren Babakan kian menunjukkan prestasi yang gemilang. Integrasi ilmu agama dan umum di bumi pesantren ini teraplikasikan dalam pertumbuhan sekolah-sekolah formal di desa ini. Hal ini sebagai pertanda bahwa pesantren Babakan Ciwaringin yang dikenal memiliki sifat tradisional, dalam kenyataannya mampu berdialog dengan berbagai kemajuan dan perubahan zaman. Hingga kini, ada tiga sekitar 30 pondok pesantren putra-putri dan lembaga pendidikan formal lainnya. Ketiga puluh pondok pesantren itu adalah Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Asrama Fatimiyah Maa��hadul Ilmi/AFMI, Asrarur Rafia��ah, Miftahul Mutaa��allimin, As-Salafi, Al-Badar, Maa��had at-Taa��lim al-Baqiyah as-Salihah/MTBS, Maa��hadul Ilmi, Az-Ziyadah, Pesantren Putri/Bapenpori, Mua��allimin-Mua��allimat, As-Salam, Kebon Jambu, Raudlatul Banat, Al-Muntadhor, Al-Hikmah, As-Sanusi, Dahlia, As-Suhada, Bustanul Qura��an, As-Saa��adah, Ikhwanul Muslimin/PPIM, Al-Ikhlas, As-Shalihah, Al-Huda, At-Taqwa, Al-Munir, Al-Furqan, Masyarikul Anwar, Al-Mustain, Al-Faqih, dan Al-Kautsar.

Di samping lembaga pondok pesantren, bumi Babakan juga memiliki sejumlah lembaga pendidikan formal baik milik pemerintah maupun swasta. Di antara lembaga pendidikan milik pemerintah, yaitu; Madrasah Aliyah Negeri (disebut juga dengan MAN Model), Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN), dan Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN), dan Sekolah Dasar Negeri (SDN). Sementara itu, guna membekali santri dengan ijazah yang legitimate, pendidikan madrasah dan sekolah umum yang terstruktur dan berjenjang, didirikan di bumi pesantren Babakan. Di antara lembaga pendidikan tingkat Taman Kanak-kanak, antara lain; (RA/TK Uswatun Hasanah dan TK Perjuangan), Madrasah Ibtidaiyah (Madrasah Aa��malul Mutaa��allimin, Madrasah Rahmatal Lila��alamin), Madrasah Tsanawiyah (Madrasah Salafiyah Syafia��iyah/MSS, Sekolah Menengah Pertama Pesantren/SMPP) dan Madrasah Aliyah (Madrasah Aliyah Pesantren/MAP, SMEA Babakan, SMK Tribakti.

Di samping lembaga pendidikan tingkat Atas/Aliyah ke bawah, pesantren Babakan Ciwaringin juga menyelenggarakan pendidikan Strata satu (S1); yaitu Sekolah Tinggi Agama Islam Maa��had Ali (STAIMA) dengan konsentrasi pada studi pendidikan Islam/Tarbiyah dan Maa��had Ali Al-Hikamus Salafiyah yang mengkonsentrasikan pada studi Hukum Islam dan Sejarah Pemikiran Islam. Lembaga pendidikan lain yang bersifat non formal adalah lembaga pendidikan dan pelatihan al-Biruni. Lembaga ini memfasilitasi para santri dalam program pengembangan pendidikan dan ketrampilan, baik melalui kursus bahasa Inggris, Arab, komputer, lokakarya dan lain-lain.

Selain lembaga yang bergerak di bidang pendidikan, pondok pesantren Babakan Ciwaringin juga memiliki lembaga sosial, salah satunya adalah Baitul Yatama Regina, yang terletak di sebelah pondok pesantren AFMI. Lembaga ini berkonsentrasi pada upaya membantu kaum dhuafa di Babakan dan sekitarnya. Di samping itu, lembaga ini memiliki program pendampingan, dalam bentuk pemberian beasiswa kepada anak-anak yatim piatu untuk melanjutkan studi di lembaga pendidikan formal dan pondok pesantren..

Gagasan mendirikan lembaga-lembaga pendidikan dan sosial di bumi pesantren Babakan tersebut telah mendapat respon positif dari kalangan kiai. Selain secara kognitif, tujuan penyelenggaraan pendidikan di bumi pesantren Babakan Ciwaringin diarahkan pada upaya membentuk para santri dan pelajar agar memiliki kecerdasan dan menguasai ilmu agama dan umum serta ketrampilan tertentu, juga santri dan pelajar diharapkan mempunyai akhlak yang terpuji dan peka terhadap fenomena-fenomena sosial serta terampil dalam mengembangkan dan mengamalkan ilmunya.

Sumber : NU Jabar Online